1. Nama Gampong Alue Beurawe merupakan perpaduan antara kondisi alam nama Alue beurawe berasal dari dua kata dalam bahasa Aceh Alue berati aliran sungai keci atau parit besar. Dahulu, wilayah ini memang dikelilingi oleh banyak aliran air yang bermuara ke sungai utama di Langsa. Beurawe Ada dua versi mengenai kata ini. Versi pertama merujuk pada sejenis. Tanaman atau pohon yang banyak tumbuh di pinggiran aliran sungai tersebut di masa lalu. Versi kedua (berdasarkan penuturan lisan) berkaitan dengan istilah Meurawe yang berarti merambat atau menjalar, menggambarkan kondisi vegetasi hutan rawa yang mendominasi wilayah ini sebelum dibukanya pemukiman.
2.Masa Kesultanan dan Penjajahan Sebelum kemerdekaan, Alue Beurawe merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Ulee Balang Langsa. Sumber sejarah menyebutkan bahwa wilayah ini awalnya adalah area hutan dan rawa yang kemudian dibuka oleh para pendatang dari wilayah Aceh sekitarnya untuk berkebun dan mencari ikan di parit-parit alam (Alue).
Peninggalan berupa struktur sosial Keuchik (kepala desa) yang sudah ada sejak zaman dahulu menjadi bukti bahwa masyarakat di sini telah memiliki tatanan pemerintahan tradisional yang kuat yang diakui secara adat.
3.Masa Transisi Administrasi (Aceh Timur ke Kota Langsa)
Secara administratif, perjalanan Alue Beurawe mengikuti perkembangan wilayah induknya:
Era Kabupaten Aceh Timur: Dahulu, Alue Beurawe merupakan salah satu gampong di bawah naungan Kabupaten Aceh Timur.
Status Kota Administratif (1991):Ketika Langsa ditetapkan sebagai Kota Administratif, Alue Beurawe mulai mengalami transformasi dari desa agraris menjadi wilayah semi-perkotaan.
Pemekaran Kota Langsa (2001): Berdasarkan UU No. 3 Tahun 2001, Alue Beurawe resmi menjadi bagian dari Kecamatan Langsa Kota, Pemerintah Kota Langsa. Inilah titik balik di mana gampong ini berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan jasa.
4. Peristiwa Penting & Peninggalan
Sebagai gampong yang berada di dataran rendah dan dekat dengan aliran sungai, sejarah Alue Beurawe juga diwarnai dengan peristiwa alam:
Sejarah Banjir: Gampong ini memiliki catatan sejarah panjang mengenai perjuangan masyarakat menghadapi banjir kiriman dari hulu. Hal ini membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan kompak dalam gotong royong.
Peninggalan Budaya: Sumber sejarah non-benda yang masih ada adalah tradisi Peusijuek dan perayaan hari besar Islam yang sangat kental, yang diwariskan dari generasi ke generasi di Meunasah (balai desa) setempat.